Kerat-Kerat Senja

"Sedang apa?", pesan singkat dua kalimat khas kamu masuk ke ponselku. Jariku dengan cepat mengetik balasan, "Masih kerja. Sebentar lagi selesai. Kenapa?" Ponselku kembali bergetar seiring balasanmu datang, "Mau mengejar senja?" "Boleh. Jemput 30 menit lagi ya." Tiga puluh menit kemudian, kamu sudah siaga di halaman depan kantorku. Menunggu dibawah pohon mangga yang alkisah digilai [...]

Patah Hati Pecandu Gula-Gula

Jika perbuatan manis berbanding lurus dengan pengeroposan gigi, maka kini aku pasti sudah ompong. Orang boleh kecanduan kopi, kokain, atau marijuana. Tapi sedari dulu aku hanya kecanduan gula-gula. Aku pecandu manis paling setia. Selalu kugaungkan di telinga, "Kenapa kita harus saling menyakiti, jika kau dan aku bisa mencipta bahagia?". Orang kerap mengernyit dan menyematkan label [...]

Hujan Habis

Aku membayangkan bagaimana jika kelak hujan habis. Apa yang akan terjadi bila kita berdua tak lagi bisa duduk-duduk, mengendus aroma tanah yang makin kuat sebelum gerimis. Masihkah kamu manis? Akankah kau membuatku gemar menangis? Hujan habis. Tanah kering. Udara tak pernah lagi lembab. Gerahnya angin mencipta perangkap. Bisakah kau tetap murah mendekap? Haruskah aku tersendu [...]

Berkemas

Koper hijau di sudut kamar mengingatkanku padamu. Kamu yang kenangannya susah dikemas. Tak bisa dilipat ringkas.   Malam ini aku menyelesaikan separuh pekerjaan rumah untuk besok lusa. Mengemas seluruh barang bawaan yang harus dibawa. Kalau saja cinta bisa dikemas dan dibawa pergi kemana-mana. Mungkin akan kutambah satu koper baru, khusus untukmu. Isinya suara bariton, hangat [...]