Drama

Rindu berteduh dibawah jarak antara kepala dan bahumu. Sementara terik dunia jadi semu dimata kita miskin kata bahagia. Sampai nanti waktunya tangis ada perih menyapa kita jadi pelakon drama tulisan di layar utama: "Tenang, semua akan baik saja"   Jogja, 2014.

Hatiku Tak Lebih Sebuah Kursi Kayu Panjang

Sering-seringlah menyakitiku, Sayang. Kau sudah lebih dari tahu hatiku tak lebih sebuah kursi kayu panjang melengkung di tengah terlampau sering pantat asing dan berat menjamah. Ia hanya akan protes saat sudah benar-benar patah berhenti punya guna. tak berwujud lagi dimata manusia. Selama masih bisa kau atur dudukmu miring sedikit, geser kanan-kiri bergantian tiap detik aku [...]

Aku Ingin Membicarakan Kita

Aku ingin membicarakan kita dalam ujung-ujung malam ditengah mata lengket dan kepala berat sebelum cemerlang fajar datang. Aku ingin membicarakan kita pada yang tak punya dakwa tentang apakah kita alpa sebagai manusia mewajarkan kehadiran jakun dan buah dada. Aku ingin membicarakan kita yang tak pernah jauh juga tak pernah jatuh cinta sepenuhnya namun selalu ada [...]

Musim Semi Tak Pernah Datang Lagi

(entah kau atau aku yang mulai mempercundangi musim) Mata ini pernah jadi saksi bagaimana bunga keluar dari tempat persembunyiannya bersolek genit mengumbar kelopak satu-persatu atau mari kita bicara soal daun di depan jendela kamarmu kulihat ia mulai kuning, coklat, meranggas hingga kuncup hijau menyembul. Terjebak warna-warni memukau kau dan aku tak hirau kita tak lebih [...]

Tenggara

Angin utara membawaku pada lembah pemuas dahaga manusia mereka yang tak pernah cukup hanya dengan dua. Cawan air minum berjejak tiga bekas bibir dua berpemulas, satu tanpa bekas aku terbang rendah menangkap lirih hatinya. Dalam teguk air tanpa perisa samar tertinggal kata yang tak pernah menguap ke udara seberapa cepat pun terhisap setangkup merah minim [...]

Kerangkeng

Aku menujumu derit rantai memekak kalung kencang di tekak langkahku memelan satu-satu. Aku ingin mengenakanmu selayak patut baju baru pipimu memerah berpaling resah kutahu kau bukan malu, tapi tak mau. Pada genggam bau logam sisa noda karat di telapak tangan aku terjerat pada kesementaraan yang kita ciptakan sudah lekat, pekat -- tak ayal kuterpenjara bahagia?